Rabu, 16 November 2011

SANTA MONICA & SEJARAH BERDIRINYA GEREJA SANTA MONICA - BSD CITY




SANTA MONICA
Pelindung Ibu Rumah Tangga
Doa yang tak kunjung putus, pasti didengarkan Tuhan...
Monika lahir di Thagaste (Afrika Utara) dan dibesarkan dalam keluarga yang kehidupan imannya sangat kuat. Ia dinikahkan dengan Patrisius, seorang pejabat tinggi yang memiliki sifat bertolak belakang dengannya, begitupun dengan ibu mertuanya yang tinggal serumah dengannya.
Dari perkawinannya ia memperoleh 3 anak, yaitu Agustinus, Navigius, dan Perpetua. Kehidupan perkawinannya banyak membuahkan kesedihan karena sifat suami, dan salah seorang anaknya Agustinus yang kafir dan senang berfoya-foya. Monika tidak berputus asa, ia menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk berdoa: "Semoga yang Maha Baik melindungi dan membimbing suami dan putraku Agustinus ke jalan yang benar!". Bertahun-tahun lamanya tidak ada tanda apapun bahwa doanya akan dikabulkan.
Setelah 17 tahun berdoa, akhirnya sang suami bertobat, dan bersama dengan ibu mertuanya dibaptis dan mengikuti iman Katolik. Embun sejuk dari Tuhan menyelimuti hati Monika dengan kebahagiaan. Tetapi masih ada beban di hati Monika, yaitu putranya Agustinus yang hidupnya semakin kacau. Agustinus bergaul dengan orang-orang bejat dan hidup sesuka hatinya tanpa pernah memikirkan orang lain. Satu tahun kemudian Patrisius meninggal dunia. Kedua saudara Agustinus, Navigius dan Perpetua tekun menjalani kehidupan rohani mereka.
Monika sungguh bingung bagaimana cara mendidik Agustinus, di tengah kebingungannya itu ia meminta bantuan seorang Uskup. "Percayalah, Ibu telah begitu banyak memeras air mata, tak mungkin Tuhan membiarkan anak itu celaka," demikian hiburan dan nasihat Uskup itu kepada Monika. Tetapi nasihat itu tidak juga menentramkan hati Monika, terlebih-lebih ketika Agustinus yang saat itu berumur 29 tahun pergi meninggalkan ibunya berlayar ke Italia. Karena khawatir akan nasib anaknya, Monika pun berlayar ke Italia. Ia terus menyertai anaknya baik itu di Roma maupun di Milano.
Ia berkenalan dengan Uskup Ambrosius di Milano. Segala doa dan usaha yang selama ini dilakukan Monika tidak sia-sia. Agustinus akhirnya dipermandikan oleh Uskup Ambrosius. Saat itu bagi Monika merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya. Hal ini tergambar dari kesaksian Agustinus sendiri yang menuliskan kisah mereka ketika ingin berlayar pulang ke Afrika, "Kami berdua terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik, sambil melupakan liku-liku hidup masa lampau dan menyongsong hari depan. Kami bertanya-tanya, seperti apakah kehidupan para suci di surga… Dan akhirnya dunia dengan segala isinya ini tidak lagi menarik bagi kami." Ibu berkata, "Anakku, bagi Ibu sudah tiada satu pun di dunia ini yang memikat. Ibu tidak tahu untuk apa mesti hidup lebih lama. Sebab, segala harapan ibu di dunia ini sudah terkabul." Selama lima hari Monika jatuh sakit, dan pada hari kesembilan dengan tersenyum ia menghadap Bapa. Agustinus putranya, sekarang lebih kita kenal dengan nama Santo Agustinus.
Santa Monika (332 - 387)

SEJARAH GEREJA SANTA MONICA - SERPONG - BSD CITY


Paroki Santa Monika adalah salah satu paroki dalam wilayah gerejawi Keuskupan Agung Jakarta yang termasuk dalam Dekenat Tangerang. Saat ini berwilayah kerja pelayanan meliputi daerah dengan batas-batas:
  • SEBELAH UTARA dengan Jalan Tol Jakarta-Merak, berbatasan dengan Paroki St. Maria Tangerang
  • SEBELAH TIMUR dengan Kali Angke, berbatasan dengan Paroki St. Bernadeth-Cileduk, Paroki St. Matius Penginjil- Bintaro dan Paroki Rasul Barnabas-Pamulang
  • SEBELAH SELATAN  dengan Gunung Sindur - Parung Kabupaten Bogor (Keuskupan Bogor)
  • SEBELAH BARAT berbatasan dengan kecamatan Balaraja, Kecamatan Tigaraksa (Paroki St. Agustinus Karawaci).
Paroki Santa Monika juga dikenal sebagai Paroki Serpong, karena gedung induk gereja Santa Monika berada di Serpong, tepatnya di Kota Mandiri Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten.
Paroki ini adalah pemekaran dari Paroki St. Agustinus Karawaci dengan peningkatan status dari Stasi Ascensio selaras dengan berkembangnya jumlah umat Katolik yang ada. Oleh karena itu riwayat Paroki tidak bisa lepas dari riwayat berdirinya Stasi Ascensio sebagai cikal bakal Paroki.
Sekapur Sirih Stasi Ascensio
Semula ada 3 lingkungan di ujung selatan termasuk dalam Paroki St. Maria Tangerang, yaitu Lingkungan Margaretta, Lingkungan Yohanes VI dan Lingkungan Yohanes V. Dengan pemekaran Paroki St Maria, berdirilah Paroki St. Agustinus Karawaci. Ternyata kemudian Lingkungan Margaretta diserahkan pelayanannya kepada Paroki St. Agustinus.
Pada Misa di Aula TK Strada Nusa Melati (sekarang Sekolah Strada di perumahan Villa Melati Mas) tanggal 13 Mei 1990 yang dihadiri Pastor Ign Putranto OSC. dari Paroki St. Agustinus, beliau menjelaskan bahwa akan ada pemekaran lagi menjadi Paroki meliputi wilayah Serpong dan sekitarnya dengan penggembalaan dari Ordo Salib Suci (OSC). Atas kesepakatan umat ketiga lingkungan yang disebutkan di atas dan prakarsa tokoh-tokohnya antara lain Agustinus Mariatmo, Robert Dwi Trisna (alm.), JB. Rahmat Heryanto (alm.), Sularso dan lain-lain serta kesediaan Pastor Ign. Putranto OSC. untuk menggembalakannya, maka dibentuk stasi yang mandiri dengan menginduk pada Paroki St.  Agustinus.
Formatur Pengurus Dewan Stasi terbentuk pada hari Kenaikan Tuhan Yesus tanggal 24 Mei 1990, sehingga stasi dinamakan Stasi Ascensio. Oleh Pastor Chris Tukiyat OSC., Pastor Kepala Paroki St. Agustinus, diminta membentuk pengurus lengkap untuk dilaporkan ke Keuskupan Agung Jakarta.
Pada tanggal 19 September 1990 Pengurus Dewan Stasi diangkat resmi oleh Pastor Kepala Paroki St. Agustinus dan kemudian secara resmi pula Mgr. Leo Sukoto SJ (alm.), Uskup
Agung Jakarta, menyetujui nama Stasi Ascensio dengan surat No: 493/3.27.39/91. Stasi Ascensio makin berkembang terutama dengan umat-umat pendatang di pemukiman-pemukiman baru di seputaran Serpong. Lahirlah Lingkungan Petrus Paulus di perumahan Bumi Serpong Damai. Terus berkembang dan bertambah sehingga Aula TK Strada yang
digunakan untuk ibadah Misa mingguan menjadi terasa sempit. Terasa perlu ada bangunan untuk ibadah atau gereja yang lebih luas, di samping Aula TK akan dipakai untuk perluasan sekolah Strada.
Membangun Paroki dan Gedung Gereja
Stasi Acensio adalah stasi yang benar-benar mandiri dalam mengelola kehidupan stasinya, keperluan liturgi, melengkapi barang-barang inventaris berupa bangku, kursi, pengeras suara dan lain-lain tanpa bergantung pada induk Paroki St. Agustinus. Sebagai Stasi, Ascensio hanya sekali-sekali dilibatkan tugas tata-laksana atau rapat pleno di Paroki. Stasi Ascensio-pun akhirnya menginginkan adanya gedung gereja sendiri dan ditingkatkan menjadi Paroki.
Keinginan ini selaras dengan rencana PT Bumi Serpong Damai (BSD) dan Keuskupan Agung Jakarta dengan penghibahan tanah untuk lahan gereja seluas 3.407 m2 yang
ditandatangani pada tanggal 23 Januari 1990. Agar aktiviitas dan misa mingguan dapat diselenggarakan di BSD, maka sebelum membangun gedung gereja perlu membangun aula atau gedung serba-guna lebih dahulu yang relatif cepat dan pendanaan ringan. Dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Serba-guna atau PPGS yang diketuai Vincensius da Silva.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar